Bandar Lampung

Buah Iseng, Lastri Pembatik Apindo Ini Sulap Ranting Sungkai Jadi Pewarna Batik Aduhai!

Penampakan baju kain batik tulis berbahan pewarna alami cairan ranting batang pohonkayu Sungkai kreasi inovatif Sulastri Oktavia, pembatik pemilik Batik Tulis As-Syafa, Pinang Jaya, Kemiling, Bandarlampung, dipermaklumkan ke publik, pada Rabu (11/8/2021). Insert: Lastri bersama Kepala BI KPw Lampung saat Silaturahmi-Halal Bihalal Apindo Lampung dan Bank Indonesia, Mei 2021. | Foto: Kolase Inshot/Muzzamil/Batik As-Syafa

Suluh.co — Keanekaragaman sumberdaya alam hayati dan nonhayati Indonesia notabene terbesar, dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brasil. Kekayaannya, sungguh tiada tara.

Termasuk di Bumi Ruwa Jurai Lampung, ranting yang semula teronggok percuma, di tangan yang tepat bisa dibuat jadi berlipat manfaat. Macam kisah iseng tak sengaja dari Sulastri Oktavia (37), warga Jl Merak 2 Nomor 17, Lingkungan I, Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, seorang ibu hijabers pembatik pemilik Batik Tulis Lampung As-Syafa ini misalnya.

Lastri –sapaannyi, merasa sayang melihat tumpukan limbah ranting batang pohonkayu Sungkai yang seiring rebak pandemi setahun belakangan ini, viral dijadikan ramuan herbal pencegah nonmedis/bagian terapi imunitas tubuh oleh khalayak ramai sejumlah daerah.

Ia tergelitik mengumpulkannya, diam-diam diaplikasikan jadi bahan baku pewarna batik tulis rancangannya. Eksperimennya berhasil!

Dari kantor Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung, Gedung Darmapala, Jl Pagar Alam 61 Kedaton, tempat pengambilan, dimana ia ikut sukacita-sukarela bergotong-royong mengemas daun Sungkai untuk dijadikan bagian paket donasi gratis baksos Apindo, bersama ormas Pejuang Bravo Lima (PBL), Yayasan Alfian Husin, RM Minang Indah Grup dan donatur jejaring, sepanjang pekan kedua Juli hingga pekan pertama Agustus, ide kreatif itu lahir.

Di jari lentik Lastri, dibantu sedikitnya tujuh karyawan tetapnya, residu baksos itu disulap jadi motif cantik. “Hasil memungut ranting Sungkai kala itu. Dimana program Apindo berbagi daun Sungkai gratis, dan [saya] hanya mampu menjadi bagian dari tim relawan packing daun Sungkai. Terlihat banyak sampah ranting yang bakal terbuang,” kisah Lastri mengungkap persuaan perdana ide kerennyi ini, Rabu (11/8/2021).

Baca Juga:  Menelisik Kolaborasi Unila-Apindo Taja Program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka dan Agro Eduwisata "Lampung EduFarm"

“Terlintas keinginan bereksperimen dengan ranting-ranting ini. Dan betapa terkesima ketika mendapatkan hasilnya. Hanya bisa berucap fabiayyi ala iRabbikuma tukadziban,” ia mengutip Firman Allah yang diulang 31 kali (ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77) dalam Quran Surat Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”.

“Terima kasih mbak Dian Pustika, mbak Mimi Belbie yang selalu bantu promosi batikku juga. Love you full,” takzim Lastri, menyebut antaranya nama founder/CEO Dapur Female Tanjungsenang Bandarlampung, Sekretaris Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah-Industri Kecil Menengah (UMKM-IKM) DPP Apindo Lampung, Dian Pustika Syarifudin.

“Batang Sungkai bisa dimanfaatkan dan hasilnya, wow luar biasa mbak Lastri Batik Assyafa. Perjuanganmu luar biasa, dengan hasil yang keren banget. Keren, gak sangka yang tadinya dipikir sampah, di tangannya jadi barang yang mahal dan keren,” puji Dian, kini turut mengkoordinir 190 UMKM Apindo, mendampingi Ketua Bidang UMKM-IKM DPP Apindo Lampung, Yayan Sopian, dan Ketua DPP Apindo Lampung, Ary Meizari Alfian.

Termasuk Lastri, pengusaha IKM wastra Nusantara produsen batik tulis, clutch dan aksesoris Tapis Lampung ini, juga binaan Dinas Perindustrian Kota Bandarlampung, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung.

“As-Syafa Batik Tulis Lampung. Pewarna alami kayu Sungkai. Bahan kain primissima. Ukuran 220 x 105 cm. Harga Rp850.000,” bunyi katalog sederhana produk baru Lastri.

Baca Juga:  Danrem Silaturahmi ke Ponpes Dzikir & Sholawat Al – Karomah Batiniyyah

Corak kecokelatan campur putih krem salah satu produk baru berbahan baku ‘kebetulan’ itu apik berpadu mejeng membalut patung pajangan di kediaman asri Lastri sekaligus workshop As-Syafa. Kepo? Cus langsung ke Instagram @batikassyafa04, Youtube-nya assyafa_batik, mau pesan: 0895600576699.

Terhubung Kamis (12/8/2021), Lastri ramah media. Mempertajam warta, ia pertama kali mengaplikasi ide pakai bahan dasar ranting pohonkayu Sungkai jadi bahan baku pewarna alami kain batiknya itu awal Agustus. Sukses sekali coba! “Walaikumsalam. Terima kasih banyak ya mas sebelumnya. Awal Agustus ini mulai percobaannya. Alhamdulillah, sekali coba langsung jadi,” pesan singkat Lastri.

Ada niat meneruskan uji coba pakai bahan baku Sungkai ini, dan/atau juga tetap coba juga dari bahan dasar pewarna alami lain yang jalan sejauh ini? “InshaAllah diteruskan. Ini percobaan kedua. Percobaan pertama menggunakan kulit jengkol karena kebetulan sepupu dulu punya bisnis jual beli jengkol, sampah kulit jengkolnya banyak jadi kepikiran untuk uji coba. Dan Alhamdulillah, hasilnya bagus juga, dan dari situlah awal mula mengambil keputusan untuk produksi batik tulis dengan pewarna alami,” jelasnyi.

Kepikiran, syukur bila sebelumnya sudah, untuk misal mematenkan kreasi baru ini? “Sudah kepikiran tapi belom dilaksanakan untuk daftar merek dan HaKI (hak atas kekayaan intelektual, red),” aku Lastri, sambil menyempil emoticon tertawa.

Terungkap, perjalanan usahanyi hingga bisa berkembang, juga turut terdampak pandemi saat ini, berliku. Keputusannya ikut pelatihan membatik di workshop Batik Siger, Kemiling, Bandarlampung, milik pengusaha sekaligus mentor bagi banyak perajin batik yang telah diizinkan Allah Tuhan Maha Esa naik kelas menjadi sesama pengusaha batik, Laila Al Husna, 11 tahun silam: sama sekali tepat.

Baca Juga:  Peresmian Flyover, Adik Ipar Herman HN Diduga Instruksikan Kepsek Bawa Snack

“Awalnya ikut pelatihan batik dulu sekitar tahun 2010 selama 3 bulan. Dan [saya] jadi pengrajin di Batik Siger milik ibu Laila Al Husna. Dan akhir tahun 2019 mulai siap untuk mandiri,” ingat Lastri jalan usahanyi.

Pandemi ajarkan banyak hal tak terduga, dan sama tak terduganya beri hikmah luar biasa, bahwa kitalah sejatinya makhluk Tuhan yang teristimewa. Kisah Lastri contoh nyatanya.

Bahkan, selain Junie Suciati, warga Bengkulu sobat kecilnyi sekaligus pelanggan pembeli pertama produk batiknyi medio 2017 silam, aktivis/Youtuber Lampung pengampu kanal ofisial Cawo Ekam Novelia Yulistin Sanggem yang pernah mengundangnyi tampil podcast.

Kabar baik ala Lastri ini, juga sama sekali tak terlintas di benak advokat Resmen Kadafi (pengurus Bidang Ketenagakerjaan, Jaminan Sosial, dan Advokasi DPP Apindo Lampung), serta dokter-musisi Aldo Aprizo, pengurus Bidang Luar Negeri DPD PBL Lampung, dua dermawan milenial donatur ranting/batang/daun Sungkai itu, jauh-jauh memboyongnya berkarung-karung empat kali pengiriman dari Way Kanan. Mereka, ikut “tekanjat”.

Terpisah, turut surprise dengar, Ketua DPP Apindo Lampung, Ary Meizari Alfian, selain memuji, mendukung-semangati, mendorong Lastri menseriusi kreasi baru ini. “Bila perlu, kami akan bantu fasilitasi pembiayaan ke jejaring lembaga industri jasa keuangan mitra Apindo, juga fasilitasi legalisasi HaKI, hak paten, atau hak mereknya. Semangat, Mbak Lastri!” ujar Ary, membersamai Ketua Dewan Pertimbangan DPP Apindo Lampung Ardiansyah, membuka kran dukungan.

 

Reporter : SUL/Muzzamil

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top