Iklan
Bandar Lampung

BKSDA Lampung Harus Kembali

Diskusi Akhir Tahun 2018 yang dihelat DPD PERSAKI Lampung/LS

BANDAR LAMPUNG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) harus kembali lagi, karena sejak 2016 lalu hanya menjadi Seksi Konservasi Wilayah III bagian dari BKSDA Bengkulu.

Hal ini menjadi salah satu catatan Diskusi Akhir Tahun 2018 yang dihelat DPD PERSAKI Lampung, Jumat (28/12), di Penangkaran Rusa Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman.

Diskusi Akhir Tahun 2018 bertopik Cagar Alam Krakatau menampilkan narasumber Prof Suharno (Dekan Fakultas Teknik Unila), Teguh Ismail (Kepala Seksi Wilayah Pengelolaan (SWP) III BKSDA Bengkulu), dan Komar Ismail (Trans Lampung).

Topik ini dipilih seiring dengan bencana tsunami Selat Sunda yang diakibatkan erupsi Gunung Anak Krakatau, 22-12-2018 lalu yang berdampak pada Provinsi Banten dan Lampung.

Gunung Anak Krakatau (GAK) merupakan bagian dari Cagar Alam Krakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau dengan luas keseluruhan 13.735,1 hektar yang pengelolaannya oleh KPHK Krakatau dibawah koordinasi SWP III BKSDA Bengkulu.

Baca Juga:  Napi Sering Dijenguk Rentan Jadi Korban Pungli

Akibat dari tsunami mengakibatkan korban 421 jiwa meninggal, 154 jiwa hilang, 1.485 jiwa luka-luka, 16.082 jiwa mengungsi (Detik, 25/12).

Gunung Anak Krakatau adalah gunung api yang aktif sejak kemunculannya tahun 1927. Bahkan sejak juli 2018 ditetapkan dalam level waspada, yang menandakan erupsi sering terjadi, hingga akhirnya 22-12-2018 erupsi mengakibatkan longsoran sehingga mendorong terjadinya tsunami.

“Ahli kegempaan sudah mengingatkan akan bahaya gunung anak krakatau yang dapat mengakibatkan bencana,” ungkap Prof Suharno.

Keterbatasan kewenangan dan anggaran akibat dari posisi SWP III sangat terasa dalam pengelolaan CA Krakatau dan CAL Kepulauan Krakatau, serta tugas dan fungsi lainnya. Terlebih saat ini Jalan Tol Trans Sumatera sudah berfungsi yang ujungnya berada di Pelabuhan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera dan Jawa.

Baca Juga:  Alumni SMA Texas Bangun Masjid Sekolah

“Ditambah lagi Bandara Radin Inten II telah ditetapkan menjadi Bandara Internasional, dengan demikian tugas yang diemban SWP III BKSDA Bengkulu sudah sangat berat,” timpal Teguh Ismail

Sementara itu, Komar Ismail, melihat bencana tsunami kemarin sebagai tantangan bagi media untuk menyampaikan berita dan informasi dengan tepat dan cepat, namun bagi kami ketepatan dan akurasi berita adalah utama.

Masyarakat diedukasi dengan informasi yang tepat sehingga kesiapsiagaan dan kewaspadaan tumbuh dan berkembang dengan baik. Ini bagian penting yang harus dilakukan sebagai media komunikasi yang berkembang pesat saat ini.

Dari bencana kita dapat belajar banyak hal, ketepatan aturan, kepatuhan terhadap aturan yang berlaku menjadi catatan tersendiri.

Tata Ruang Wilayah perlu ditinjau lagi bila ada yang tidak tepat, namun penegakan aturan yang sudah ada juga menjadi hal yang harus dilakukan. Sistem deteksi dini (early warning system) dan manajemen bencana (desaster management) perlu dilakukan dan dipastikan berjalan, sehingga pusat kajian krakatau bisa menjadi tempat penelitian, kajian dan antisipasi bencana.

Baca Juga:  20 Mei, Tiga Kabupaten di Lampung Kena Pemadaman Bergilir

Diskusi akhir tahun 2018 Persaki Lampung menjadi tempat belajar bersama yang dikemas dengan “ngopi” ngobrol pintar bersama pakar, akademisi, birokrasi, praktisi, dan media masa guna meningkat persepsi dan sinergi para pihak dalam meningkatkan peran para pihak di bidangnya.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top