Iklan
Politik

‘Bela Perawat’, Dedi Bantah Politisasi Caleg

Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal/BO

BANDAR LAMPUNG – Aksi solidaritas Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lampung, dengan mengusung aksi ‘Bela Perawat’. Yang diterima Ketua PPNI sekaligus Ketua DPRD Provinsi Lampung bukanlah politisasi.

Menurut Dedi, hal ini dilakukan karena pihaknya sebagai PPNI membela profesi yang dialami Ferry karena dikeroyok oleh keluarga pasien. Dedi menyatakan, keinginannya ini agar kedepan tak lagi kasus seperti ini terulang kembali kepada perawat kedepan.

“Kita juga telah melakukan langkah hukum dan mendapat dorongan dan persetujuan dari PPNI pusat, karena pusat juga memantau dan memberikan bantuan hukum untuk tetap melanjutkan sampai ke proses hukum,” katanya di Kantor DPRD Provinsi Lampung, Kamis (26/4)

Bendahara PDIP ini membantah, jika niatnya dilakukan untuk politisasi pemilu caleg.

Baca Juga:  Konsolidasi di Pesibar, GRN Bersih-Bersih Pantai Tanjung Setia

“Ya, tidak ada. Apalagi saya pileg lalu berada di daerah pemilihan (Dapil) VI. Meliputi Mesuji, Tulangbawang dan Tulangbawang Barat, 3 kabupaten, Jadi bagaimana untuk pemilu, apalagi Lampung ini terdiri 15 kabupaten/kota. Jadi 12 kabupaten/kota kemana, kan tidak berkerja. Jadi ya ini murni secara profesi, tidak ada hal yang lain,” kata dia.

Sehingga, ia membantah jika dilakukan untuk politisasi, secara organisasi, loyalitas, kata dia, memang mempunyai kepentingan, namun bukan kepentinganya untuk dibawa tapi kepentingan bersama-sama.

“Kalau bicara politik ya gak mungkin bagaimana 12 kabupaten berkerja, dan terus cost (biaya) ya tak efetiktif, karenakan yang dibutuhkan juga hanya 12 kabupaten, jadi ini dilakukan karena kecintaan profesi,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung, Kompol Harto Agung Cahyono, menyatakan bahwa sejauin polresta telah melakukan penyeledikan. Saat ini, juga penyedik telah mencari bukti lain.

Baca Juga:  Jokowi – Amin Sementara Kuasai 8 Kecamatan di Kabupaten Way Kanan

“Bahkan sudah kita panggil mereka. Dan saat ini juga akan melakukan kordinasi dengan pihak kejaksaan,” tutur dia.

Terpisah,  keluarga pasien Yansori Zaini (51) warga Sukarame, menyatakan kronologisnya bahwa dia mendatangi rumah sakit untuk membawa istrinya berobat.

Saat itu, dia diminta untuk menunjukkan surat rujukan oleh petugas rumah sakit persyaratan melanjutkan pengobatan istrinya.

“Saya memang nggak punya surat rujukan. Tapi saya minta ke petugasnya untuk mendahulukan pengobatan istri saya. Saya sampaikan, melalui pengobatan secara pasien umum juga tidak masalah,” ujar dia.

Pada saat berdialog dengan petugas rumah sakit, ia mengakui bahwa nada suaranya meninggi. Lantaran khawatir istrinya tidak kunjung ditangani pihak rumah sakit.

Baca Juga:  Dedi Afrizal-Fuad Amrullah Paraf Petisi, Saply Dukung Lampung Ibu Kota Pemerintahan RI

“Petugas itu negur saya karena suara saya yang meninggi. Kami cekcok, dan ada beberapa orang memukuli saya dan anak saya. Mereka memukul saya pakai alat-alat rumah sakit,” ujarnya.

Ia mengaku, tidak hanya dirinya saja yang mendapat perlakukan kasar, anak perempuannya bernama Feb Prima juga turut mendapat perlakuan yang sama.(BO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top