Daerah

Angga Satria Pratama Sosialisasi Perda Perlindungan Anak di Kecamatan Kedondong

Anggota DPRD Provinsi Lampung, Angga Satria Pratama, menggelar sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan anak di Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran/Suluh/RIS

PESAWARAN – Anggota DPRD Provinsi Lampung, Angga Satria Pratama, menggelar sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan anak di Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Minggu (23/2) kemarin.

Menurut Angga, sosialisasi Perda ini sangat penting dilakukan guna menyampaikan produk peraturan yang telah dibuat pemerintah agar diketahui dan dipahami oleh masyarakat. Sebab setiap perda yang dibuat oleh pemerintah membutuhkan anggaran besar, tentu akan menjadi sia-sia jika tidak didistribusikan kepada masyarakat.

“Masyarakat harus tahu setiap perda yang dibuat oleh pemerintah, sebab perda tersebut juga dibuat untuk ditujukan pada masyarakat, jadi masyarakat harus memahami,” terang Angga.

Baca Juga:  Teken MoU dengan Ombudsman RI, Bupati Dendi Ingin Berikan Layanan Publik Berkualitas

Angga juga menjelaskan, bahwa Provinsi Lampung menduduki peringkat ke-11 angka kekerasan terhadap anak, dan Kecamatan Kedondong merupakan zona merah angka kekerasan terhadap anak.

“Itulah mengapa untuk agenda sosialisasi Perda no. 13 tahun 2017 ini saya laksanakan disini, harapannya agar warga dan seluruh aparat desa bisa mempersiapkan pembinaan terhadap generasi-generasi muda sejak dalam keluarga, sehingga ha tersebut bisa mengurangi angka kekerasan terhadap anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Advokasi anak (LADA) Turaihan Aldi, yang turut serta hadir sebagai salah satu pemateri menjelaskan bahwa, saat ini angka kekerasan terhadap anak tidak pernah turun, angka selalu meningkat setiap tahunnya.

Lebih mirisnya lagi, maraknya pelacuran anak juga menambah deretan panjang problematika kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak.

Baca Juga:  Purworejo Ditetapkan Darurat Covid-19

“Ini adalah hal yang paling berbahaya, yakni anak yang dilacurkan. Meski publik sering menyebutkan sebagai prostitusi anak, tapi itu tidak tepat. Lebih tepat disebut sebagai anak yang dilacurkan. Karena prostitusi bukan suatu pekerjaan yang bisa dipilih oleh seorang anak, anak belum bisa memilih pekerjaan. Sehingga ketika hal tersebut disematkan, ini akan memberikan stigma buruk bagi anak-anak,” ungkapnya.

Sosialisasi Perda ini dihadiri oleh sekitar 100 orang warga yang antusias dan menyambut baik adanya peraturan daerah tersebut yang diketahui baru mereka pahami setelah adanya sosialisasi tersebut.(RIS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top