Panggung

Anak Muda Punya Cara Apresiasi Musik Lampung

Diskusi Lampungnese Music in Motion di Kafe Sinia Coffe, Bandar Lampung, Sabtu (24/3/2018) malam. (ist/dok edelweiss)

BANDAR LAMPUNG — Khazanah musik Lampung adalah sebuah potensi terpendam yang masih belum tergali dan terekspolasi maksimal. Anak muda atau generasi milenial mempunyai tantangan tersendiri dalam mengapresiasi musik Lampung Lampung ini dengan cara yang berbeda, yaitu mengolaborasikan musik etnik dengan musik modern.
Hal ini mengemuka dalam diskusi Lampungnese Music in Motion yang diselenggarakan Edelweiss Centre for Sustainable Development (ECSD) di Kafe Sinia Coffe di Jalan Ratu Dipuncak, Bandar Lampung, Sabtu (24/3/2018) malam.
“Jika ingin mengembangkan budaya Lampung, pelajari akarnya. Belajar budaya itu bisa dimulai dari kecil, bisa di lembaga-lembaga seperti Taman Budaya. Jadi tidak ada alasan bagi generasi sekarang tidak mengenal budaya Lampung,” kata I Gusti Nyoman Arsana dari Taman Budaya Provinsi Lampung ini dalam rilisnya yang diterima suluh.co, Minggu (25/3/2018).
Menurut, Nyoman Arsana eksplorasi terhadap musik tradisi Lampung dengan gaya baru tidak akan merusak tatanan tradisi Lampung. Bahkan eksplorasi antara musik tradisional dengan musik modern telah dilakukan Nyoman pada pertengahan tahun 1980-an. Kenyataannya, dengan kegiatan-kegiatan seperti itu musik tradisi asli Lampung justru semakin populer.
“Meskipun demikian, revitalisasi membutuhkan pembagian tugas antara mereka yang memelihara pakem tradisi asli dengan yang mengembangkan dalam bahasa musik zamannya. Selain itu, penting sekali agar dilakukan penelitian tentang pengembangan berkelanjutan musik tradisi Lampung,” katanya.
Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung Hari W Jayaningrat mengatakan persoalan yang dihadapi para praktisi musik tradisional di Lampung tidak sebandingnya bayaran yang mereka dapat. Hal ini dikarenakan tidak adanya regulasi yang mengatur tentang ketetapan harga dalam sekali tampil, sehingga mereka dihargai sangat murah dan semau-mau pengguna.
Direktur ECSD Unang Mulkan menjelaskan, kegiatan ini dapat sebagai jembatan bagi generasi muda yang berlatar belakang musik populer dengan musik tradisisional. “Diskusi ini diharapkan memberi mereka akses untuk mengenal dan menggali musik tradisional Lampung. Dengan begitu musik tradisi Lampung tetap hidup dan bisa dinikmati generasi masa depan,” ujarnya. (UZK)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top