Pendapat

Alternatif Peningkatan Pendapatan Petani Tepi Hutan Nagari Persiapan Lubuk Gadang Barat

Oleh : Nurdin Hamzah Hidayat

Peneliti Daulat Institute

Hutan adalah sebuah kawasan yang menjadi tempat bergantungnya berbagai makhluk hidup seperti pepohonan, tumbuhan, hewan, dan manusia. Hutan harus dipandang sebagai ekosistem yang mesti dijaga keseimbangan dan keharmonisannya. Keseimbangan yang dimaksud berhubungan dengan aktivitas hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Aktivitas manusia yang makin eksploitatif kian merusak keseimbangan ekosistem sehingga berdampak terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya, seperti perburuan hewan, penebangan pohon, pertanian berbasis agrokimia, dan lain-lain.

Hutan secara alami adalah tempat hidup dan berburunya harimau dalam mencari makan, semakin kencangnya aktivitas pembukaan lahan pertanian dan perkebunan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan menyempitnya ruang hidup atau ruang jelajah harimau.

Penyebab pembukaan lahan/ladang didalam hutan tersebut terjadi akibat dari bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya tuntutan hidup masyarakat nagari. Sehingga fenomena tersebut menjadi lazim dilakukan oleh masyarakat nagari-nagari yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional khususnya Tanaman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) demi tujuan meningkatkan pendapatan keluarga.

Berangkat dari permasalahan demikian, tentu ekosistem habitat harimau dan hidup petani tepi hutan terancam.walau dalam sisi lain bertentangan dengan hakikat hidup manusia yang harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang meliputi sandang, papan, pangan dan papan.

Baca Juga:  Eksistensi Pancasila di Era Milenial

Untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut diperlukan pendapatan. Pendapatan rumah tangga adalah jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perseorangan dalam rumah tangga (Titisari, n.d.).

Hubungan antara besarnya pendapatan keluarga dapat dilihat dalam bentuk dalam bentuk pendapatan yang diterima oleh keluarga yang bekerja baik pendapatan suami ataupun pendapatan istri yang diperoleh dari upah pokok, tunjangan atau imbalan atas kelebihan produksi ataupun dari penghasilan lain.

Dalam kehidupan masyarakat tentu saja terdapat berbagai macam cara dalam mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan hidup.

Maka, sebagai negara agraris, yang ditunjukkan dengan besarnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Pemanfaatan salah satu sub sektor yang memiliki basis sumber daya alam adalah dengan mengelola lahan perkebunan kopi tepi hutan secara bersama-sama antara masyarakat tepi hutan, kepala Jorong dan kelompok tani, Wali Nagari beserta LPHN, untuk meningkatkan pendapatan petani.

Sebab kopi yang merupakan salah satu komoditas penting yang diperdagangkan secara luas di dunia, terbukti selama ini di Indonesia lebih dikenal sebagai penghasil Kopi Robusta terbesar didunia, meskipun kontribusi Kopi Indonesia dalam perdagangan kopi dunia secara kuantitatif kecil namun secara kualitatif sangat disukai konsumen dengan keanekaragaman jenis serta cita rasa yang spesifik.

Baca Juga:  Koperasi Petani sebagai Jalan Menuju Ekonomi Berkeadilan

Permasalahaan yang dihadapi petani dari sering terjadi di dalam pengembangan kopi antara lain adalah karena tanaman ini 96% diusahakan oleh rakyat maka teknik budidayanya belum sesuai dengan anjuran/good agriculture practise (GAP), produktivitas tanaman rendah karena munggunakan bibit asalan, lemahnya kelembagaan petani, value added yang diterima petani rendah karena sebagian yang diekspor dalam bentuk biji kopi, serta terbatasnya modal.

Oleh sebab itulah, mengapa kopi (Robusta) atau Kopi Manak yang biasa disebut masyarakat dinagari persiapan lubuk gadang barat (Sangir, Solok Selatan) tidak menjadi komoditi prioritas oleh masyarakat nagari ini, padahal hampir seluruh Kepala Keluarga di satu jorong saja memiliki 15% komoditi kopi didalam ladang mereka.

Menurut penulis perlu kebijakan umum yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang kian hari kian membesar, dengan mensinergikan seluruh potensi sumber daya tanaman kopi dalam rangka peningkatan daya saing usaha, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk, melalui parstisipasi aktif para pemangku kepentingan dan penerapan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi serta didukung tata kelola pemerintah yang baik.

Baca Juga:  Keamanan Manusia Berbasis Reforma Agraria di Indonesia

Kebijakan umum ini didukung dengan kebijakan teknis yaitu pengembangan kopi, peningkatan SDM, pengembangan kemitraan dan kelembagaan bisa berupa Koperasi atau BumNag seperti yang dilakukan salah satu Nagari di Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan yang menjadikan Kopi sebagai produk andalan Nagarinya, selain itu perlu peningkatan investasi usaha serta pengembangan sistem informasi manajemen.

Kebijakan tersebut diatas dijabarkan dalam program dan strategi pengembangan kopi. Programnya adalah peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman kopi berkelanjutan, sehingga pelaku-pelaku dikenagarian dapat melakukan upaya-upaya progressif dalam peningkatan pendapatan masyarakat nagari tanpa harus memasuki dan merambah hutan demi kebutuhan harian masyarakat.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top