Daerah

Aksi Protes di DPRD Lampung Selatan Ricuh

Aksi masa puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Front Revolusi Mahasiswa (FRM) Lampung Selatan (Lamsel) di depan Kantor DPRD setempat/Ali

LAMPUNGSELATAN – Aksi masa puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Front Revolusi Mahasiswa (FRM) Lampung Selatan (Lamsel) di depan Kantor DPRD setempat berlangsung chaos (ricuh).

Mulanya, front yang terdiri dari LMND dan PMII Lamsel ini menyuarakan atas protesnya terhadap UU MD3 yang dianggap sesat fikir. Karenanya, mereka menuntut dan menyatakan sikap penolakan terhadap produk regulasi yang belum lama disahkan tersebut.

Namun, berkelang sekitar 1 jam mereka berorasi didepan pagar DPRD Lamsel, terjadi kericuhan yang diketahui dengan Pol-PP. Hal itu terjadi, setelah puluhan mahasiswa itu memaksa masuk ke dalam pagar. Namun, dicegah oleh sejumlah Pol-PP yang berjaga.

Baca Juga:  Wabup Saply Jabat Plt Bupati Mesuji

Akibatnya, sejumlah mahasiswa mengalami luka memar akibat hantaman  Pol-PP. Salah seorang diantaranya, yakni AS yang mengalami luka memar di bagian pipi sebelah kiri. Diduga, lantaran terkena tinjuan dari anggota Pol-PP yang mengenakan baret biru.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi tersebut, Muhitul Ulum menjelaskan, awalnya keributan itu terjadi karena puluhan mahasiswa menuntut anggota DPRD untuk membuat nota kesepahaman atas penolakan regulasi UU MD3 tersebut paling tidak 50+1 persen dari keseluruhan anggota dewan di Lamsel.

Ia menambahkan, sempat dilakukan negosiasi bersama salah seorang anggota DPRD, Andi Prianto. Bahkan, aggota dewan dari Fraksi PKS ini menyatakan sepakat dengan tuntutan sejumlah mahasiswa itu. Namun, pihaknya hendak berdiskusi terlebih dahulu secara kelembagaan DPRD Lamsel.

Baca Juga:  KH Yahya Cholil Staquf Respon NU Purworejo Pasca Pilpres

Lanjutnya, Andi mengatakan bahwa tidak ada seorangpun anggota DPRD yang hadir kecuali Andi Prianto saat itu. Lantaran ingin membuktikan kebenarannya, puluhan mahasiswa memaksa masuk.

“Kita masuk dicegah oleh Pol-PP. Sempat terjadi saling dorong- mendorong dengan Pol-PP. Setelah itu, salah seorang masa kami ada yang jatuh dan pihak Pol-PP pun ada yang hampir jatuh. Setelah itu, salah seorang Pol-PP itu berbalik badan kemudian langsung memukul AS,” jelasnya saat diwawancarai di Polres Lamsel, Kamis (1/3).

Menurutnya, semestinya aparatur represifpun tidak seharusnya melakukan tindak kekerasan terjadap masa aksi. Bahkan, mereka justru mendampingi saat massa menyampaikan aspirasi.

“Namun fakta dilapangan, mereka justru langsung main pukul dan tindak kekerasan yang lainnya,” tukas Ulum.

Baca Juga:  Dandim 0429 Lampung Timur Bagikan Bingkisan Ramadan bagi Personel Kodim dan ASN

Senada dikatakan Sekretaris LMND Lamsel, Dedi Manda Putera. Ia mengungkapkan, hal tersebut menjadi tolak ukur kinerja Pol-PP di Kabupaten Khagom Mufakat tersebut.

“Bahwa, mereka seharusnya mengedepankan tindakan persuasif, bukan tindakan arogan dan represif. Atau, apakah memang itu merupakan tindakan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku saat adanya aksi masa ?,” kata Dedi.(LI)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top